Pernik Kehidupan 27: Mencuci Helm

9 Juli 2015

Beberapa hari yang lalu saya mencuci sendiri helm saya. Sudah sekitar 4 tahun helm itu saya gunakan menutupi kepala saya. Dan, saya tidak pernah mencucinya !

Singkat cerita, setelah bagian – bagian helm saya “preteli”, saya menyemprotkan air ke dalam helm tersebut. Sabun saya tambahkan, lalu mulailah saya mencuci helm kesayangan.

Mulai mula air cucian masih terlihat bening, dan lambat laun mulai menghitam, pekat. Saya mengganti air cucian tersebut dengan air baru dan menambahkan kembali sedikit sabun “RInso”. Dan, terjadi perulangan kejadian, mula – mula air cucian terlihat bening dan akhirnya menghitam pekat juga. Sekitar 4 kali saya melakukan perulangan sampai akhirnya saya mempercayai helm saya telah bersih.

Analogi dengan helm; kepala kita adalah bagian penting yang “selalu kita pakai” untuk beraktivitas. Berjuta – juta informasi telah lekat – menempel di dalam otak kita. Lekatan informasi baik mungkin juga hampir berimbang dengan informasi buruk. Lekatan itu, mungkin saja kita injeksikannya dengan sengaja atau mungkin juga dengan tidak sengaja,

Begitu dahsyatnya lekatan – lekatan tersebut, sampai mampu membentuk citra kita, karakter kita. Ucapan dan perbuatan PASTI berdasarkan konstruksi dari lekatan – lekatan tersebut.

Lalu bagaimana seandainya seperti helm saya, seluruh lekatan – lekatan tersebut kita cuci ? Semuanya dibersihkan, diinstall ulang. Mungkin saja limbah hitam pekat keburukan akan mendominasi. Dan dibutuhkan waktu yang lama agar air cucian kita kembali bening.

Hemmmmmm,

Ada nggak ya bengkel cucian isi kepala khusus yang memilih – milah limbah informasi buruk untuk dibuang ?

Selamat mencuci kawan, (termasuk saya) di hari – hari menjelang Idul Fitri.

Iklan

Pernik Kehidupan 26

19 Mei 2013

UN SMA 2013 telah usai. Dua minggu lebih saya ‘bersantai’ membuat kunci jawaban untuk masing – masing tipe. Dan purna juga akhirnya memeriksa jawaban untuk setiap putri – putra kami. Berikut ini, sebagai praktisi guru SMA yang saya pikir saya cukup kompeten untuk menanggapinya (hahahaha…….)

UN Fisika Tahun Pelajaran 2013 ‘relatif’ lebih sulit dibanding UN Fisika 2012

Dengan adanya 30 tipe soal, dan berdasarkan hasil pemeriksaan jawaban sementara yang saya lakukan; saya berkeyakinan bahwa tingkat kesulitan masing – masing tipe tidak seragam. Tipe – tipe tertentu relatif lebih sulit dibanding dengan tipe – tipe yang lain. Sehingga beberapa siswa yang kemampuannya setara di UN Fisika 2013 memperoleh hasil skor yang cukup signifikan berbeda.

Dengan adanya 30 tipe soal, skoring untuk putri – putra kami relatif tidak berbeda dari hasil latihan – latihan persiapan UN yang diselenggarakan di sekolah. Hal ini sangat berbeda dari UN Fisika 2012 ke belakang; karena umumnya hasil UN mereka sangat ‘fantastis’ dan ‘tak terprediksikan’. Dalam hal ini saya mengapresiasi ‘PELAKSANAAN UN YANG JUJUR’.

Perdebatan kelayakan UN 2013 (khususnya fisika) untuk dijadikan syarat masuk ke Perguruan Tinggi Negeri; saya berpendapat sebagai berikut: Dari sisi kejujuran, 98 % hasil UN 2013 layak untuk dijadikan syarat masuk PTN (berdasarkan pantauan di SMA yang saya ajar dan SMA dimana saya mengawas); namun dari sisi temuan adanya beda tingkat kesulitan pada masing – masing tipe, saya pribadi berpendapat UN 2013 belum layak dijadikan syarat masuk PTN. Simpulan akhir sebaiknya proporsi hasil test masuk perguruan tinggi negeri haruslah ‘lebih’ dibanding hasil UN. Misal 7 : 3.

Bahwa UN dijadikan alat untuk keperluan pemetaan prestasi pendidikan dari ranah kognitif, saya bisa menerimanya. Bahkan dari sudut pandang ini UN memang harus ada.

Beberapa waktu yang lalu di Kompas saya membaca tulisan  kritik dari seorang guru besar terhadap tulisan Bapak Jusuf Kalla yang juga dimuat di kompas sebelumnya. Dalam tulisan tersebut, dikatakan bahwa standar pendidikan di Indonesia sebenarnya telah terpetakan oleh test A, pengukuran B, dst. yang semuanya berasal dari luar negeri. Bahkan pada salah satu acara di TV saat kritik terhadap pelaksanaan UN sedang panas – panasnya; seorang pemerhati pendidikan menyentil adanya kurikulum dari negara C yang ‘bisa dijual’ dari mulai pelatihan guru sampai dengan ke alat ukur hasil belajar (yang memang setahu saya tidak sekedar mengukur aspek kognitif tetapi juga aspek ketrampilan praktik). Saya menyayangkan kalau UN dihapus gara – gara pendapat semacam ini.

Bagi saya pribadi UN bisa ‘berguna untuk sesuatu yang lebih’. Asalkan UN tidak ‘dibebani’ oleh sesuatu yang berlebih…. salam 20 Mei 2013


Pernik Kehidupan 25

19 April 2012

Hukum Faraday

Gaya Gerak Listrik Induksi (baca: tegangan) nilainya tergantung pada laju perubahan flux magnetik terhadap waktu. Semakin besar laju perubahan; maka GGL induksi yang dihasilkan semakin besar.

Pingin potensial-mu menjadi tinggi (positif); Gampang !

Lakukan perubahan – perubahan pada dirimu dengan cepat ke arah yang lebih baik tentunya dan terimalah perubahan – perubahan yang ada disekelilingimu dengan bijaksana !

Kecepatan menjadi kuncinya. Dan, manusia dengan rohani-energik-lah yang akan menyerap positif makna dan tujuan perubahan

Manusia ‘tua’ ? Ia akan sedikit lebih lambat !

Manusia ‘usang’ ? Ia akan ditertawakan !


Pernik Kehidupan 24

2 November 2011

Ketika kita menjadi seorang bawahan; jadilah seperti kapasitor yang terangkai seri. Berapapun besar kapasitas kita, berbahagialah jika masing – masing mendapat ‘muatan listrik’ yang sama.

Ketika kita menjadi seorang atasan; berfikirlah bahwa rekan kita seperti kapasitor yang terangkai paralel. Semakin besar kapasitasnya; ia berhak untuk mendapatkan ‘muatan listrik’ yang besar pula.


Pernik Kehidupan 23

3 Juni 2011

Menjadi ‘manusia unggul’ adalah tujuan. Kepadanya melekat kekuasaan
Menjadi ‘manusia penting’ bagi kehidupan sosial adalah pengabdian. Kepadanya melekat kemaslahatan bagi banyak orang


Pernik Kehidupan 22

16 Mei 2011

Pernah saya menggunakan “energi nuklir” untuk mengaktifkan “turbin – turbin” kehidupan saya. Karena saya berkeyakinan lebih efektif, efisien, ramah lingkungan. Namun rupanya, “teknologi” pendukung untuk mengendalikannya berbiaya tinggi. Meletakkan status di “titik kritis” membuat saya hanya berkonsentrasi dan berfokus pada “pereaksian” dan “pengendalian”. Dan saya menjadi segala – galanya. Melupakan bahwa begitu banyak “Air” dan “Angin”, berlimpah ruah menembus “relung – relung hati, jantung, dan paru – paru” kita. Yang tidak akan pernah kering dan mati.

Sayang memang menyia – nyiakan “SUNGAI KASIH” dan “ANGIN SABDA dan RAHMAT”. Memang harus ada keberanian untuk mengubah “teknologi” untuk menggerakkan turbin, dari yang MANDIRI menjadi BERGANTUNG pada-NYA.

Amien.


Pernik Kehidupan 21

2 Mei 2011

Hidupnya penuh kasih,
Demi martabat insan.
Cita – cita luhur suci,
Tak luntur ditelan Jaman.
Driyarkara, guru penuh bakti,
Kan kami teruskan cita-mu.

Dengan bimbingan Tuhan,
Membudayakan Bangsa.
Dengan kesederhanaan,
Berkarya bagi sesama.

(Hymne Driyarkara, IKIP/Universitas Sanata Dharma. Masih dinyanyikan nggak, ya ?)